Motion & Emotion

kepingin punya nasib yang baik ??

dirunut dari belakang, beginih cara membuatnya

 

“ Nasib dihasilkan karakter, karakter adalah buah dari kebiasaan, kebiasaan bermula dari tindakan (action). Action adalah hasil dari keputusan (decision) dan keputusan sangat berpaut dengan perasaan  (emotion).

Dilihat dari siklus tersebut, jika ada pertanyaan “mesti dari mana saya harus mulai, jika saya ingin bernasib baik ?”

jelas jawabannya dimulai dari “perasaan” Anda.

Hukum tarik menarik sangat meyakini banget bahwa apa yang kita dapatkan adalah apa yang kita rasakan. Bangun pagi yang nge-betein sering banget jadi pemicu hal-hal yang nge bete-in lainnya selama seharian penuh.

Qur’an menyebutkan bahwa orang yang pandai bersyukur maka akan ditambah nikmatnya. Syukur disini rasa, so the conclusion is…u’ll get what u feel not only what u think. Karena ada kesimpulan seperti ini, maka berpikir positif sudah tidak bisa menjawab lagi masalah-masalah keseharian. Buktinya kalau Anda lagi sedih, sangat jarang banget pikiran Anda bisa memutuskan hal-hal yang membuat Anda bahagia bukan? Biasanya kita akan terlarut dulu dalam kesedihan itu sebelum bisa menemukan titik baliknya.

Dan ternyata titik baliknya sederhana banget. Our emotion is created by our motion. Perasaan kita akan menghasilkan gerakan tertentu, misalkan Perasaan sedih yang menghasilkan gerakan punggung yang membungkuk, kepala menunduk, mata terpejam, dan wajah yang ditutup oleh telapak tangan. Dan ini berlaku kebalikan, kalau Anda memilih untuk tegak, menengadahkan kepala, mata yang berbinar, senyum yang simetris, membuka bahu dan nafas yang tenang akan membuat Anda serta merta feelin much better.

Merubah gerak akan merubah rasa. Perubahan gerak yang simultan dan sistematis dalam Olah raga bisa dibilang cara yang sangat baik untuk olah rasa. Sehingga aktifitas tersebut tidak hanya membentuk penampilan yang baik secara physical appearance, namun juga kondisi psikologis yang stabil.

And u know what ? kualitas sebuah bangsa juga bisa dilihat dari kualitas olah raganya lho !!

Ketika para atlit berjuang habis-habisan untuk negaranya, bersatunya mereka sebagai sebuah tim dilapangan menularkan antusiasme yang mampu menghapuskan SARA dan membangkitkan nasionalisme yang utuh. Demikian juga sebaliknya,ketika para atlet sudah lebih  ber’perasaan’ seperti selebritis, keberadaanya tidak lebih dari sekedar “menghibur”. Mental yang mudah drop, memperlihatkan emosi yang rapuh. Ia membangun badannya tapi tidak membangun jiwanya.

Semoga saja, penyakit ini tidak sampai berkembang lebih luas di negara yang kita cintai ini. Indonesia membutuhkan kesepakatan nasional bahwa achievement harus benar-benar dibangun atas nama prestasi dan kompetensi  bukan hanya pencitraan hasil dari politisasi berbagai lini , termasuk olah raga. Dan finally, agar tidak capek terlalut dalam kegalauan ini, mari keluar sebentar dari konteks kebangsaan dan melihat diri sendiri. Sudah saatnya kita berdisiplin berolah raga demi fisik dan psikis kita yang jauh lebih baik. semoga bangsa ini akan menjadi besar karena setiap orang berpikir untuk memulai apapun dari dirinya sendiri.

So Response Designer, mari kembali kediri kita sendiri!

 

@Harri Firmansyah R

Leave a comment