Damaikan Setan dan Malaikat Dalam Jiwamu

Inspired from Krishnamurti

..We have trying so Hard, but so sorry..I think we wouldn’t make it!

dan kalimat tersebut pun menjadi sebuah kalimat yang populer untuk mengakhiri sebuah hubungan..

Yups.. pisah dalam keseharian,  bisa kita lihat dalam berbagai bentuk .  Sahabat yang berseteru karena bisnis dan masalah keuangan, perpecahan keluarga karena warisan, kenaikan tingkat perceraian, kisruh partai koalisi,  perbedaan pemahaman dan aliran agama, sampai kejadian yang nggak masuk akal sama sekali                                                                                                                             “Ibu membunuh anak gadisnya!”

Sunatullah dan kepahaman universal bahwa setiap manusia itu berbeda sifat dan unik, sering menjadi tidak cukup kokoh sewaktu berhadapan dengan ‘perbedaan” yang sangat tajam dan berulang-ulang.

Fenomena  diatas adalah kejadian lazim dalam hubungan Interpersonal. Namun, bagaimana jika kita menemukan perbedaan itu justru ada didalam diri yang sama?

Sering kita berada pada kondisi malas ketika seharusnya lebih giat, berdiam diri ketika seharusnya bertindak cepat, marah ketika seharusnya bisa lebih bijak terhadap pencapaian hasil, mengkritik diri sendiri ketika seharusnya mengapresiasi, membenci masa lalu ketika seharusnya bersahabat dengan kesusahan yang telah dialami dan seterusnya..

Ketika kita benci terhadap orang lain, selalu bermasalah dengan seseorang, kita bisa memilih berpisah dengan mereka. Tapi jika kita membenci kondisi pribadi, kecewa terhadap diri sendiri, bagaimana cara memisahkan yang ada dalam satu wujud yaitu diri kita??

Negatif positif, baik buruk, hitam putih, sifat derivasi dari setan dan malaikat adalah kondisi dimana keduanya harus saling menguatkan untuk menjadi sebuah jiwa yang utuh. Sangat dibutuhkan legowo tingkat tinggi ketika satu sisi menang akan menggeser sisi lainnya dan selalu berkehendak untuk belajar memperbaiki diri lebih baik.  Kondisi inilah yang harus kita terima (self acceptance) dan kemudian akan menjadi pondasi awal untuk membawa citra diri kita keluar (self disclosure) sebelum berhubugnan dengan orang lain.

Bagaimana mungkin kita menuntut keadaan diluar kita untuk berdamai? jika didalam diri kita sendiri selalu berkecamuk berbagai perasaan dan tidak menemukan jalan untuk mempersatukannya.  Orang diluar kita adalah cermin dan bertingkahlakunya  kepada kita adalah pantulan. Bukankah “living a full life on the outside, starts on the inside??”.

 

@Harri Firmansyah R

Leave a comment